«

»

Dec
22

Resensi Film: Iron Jawed Angels

PPGA-PM. Iron Jawed Angels (IJA) merupakan sebuah cerita yang berdasarkan pada  sebuah kisah nyata dari para pegiat perempuan yaitu  Alice Paul yang diperankan oleh Hillary Swank dan Lucy Burns yang diperankan oleh  Frances O’Connor. Film IJA diproduksi oleh HBO Films pada tahun 2009.

Film ini diawali oleh pertemuan antara Alice Paul, Lucy Burns dengan Anna Howard Showel yang menjabat sebagai ketua Asosiasi Emansipasi Wanita Amerika Nasional (National American Woman Suffarace Assosiation / NAWSA). Alice dan Paul berkeinginan untuk mendapatkan dukungan NAWSA dalam mengamandemen UU mengenai hak pilih perempuan.  Anggapan mengenai ketidakpantasan kaum perempuan berkiprah dalam politik hampir terjadi di seluruh  Negara bagian Amerika Serikat pada saat itu. Hal ini terlihat dari sedikitnya Negara bagian (hanya 9 negara bagian ) di AS yang  telah memberikan hak politik bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam pemilu. Pemberian hak politik bagi perempuan di 9  negara bagian ini memakan proses selama 64 tahun.

Ada dialog yang menarik antara Alice dan Ben Weissman seorang wartawan Washington Post mengenai misi Alice dalam salah satu scene. Dialog adalah sebagai berikut,

Ben Weissman : “Menurutmu apa yang akan dilakukan wanita jika diberikan hak pilih? Mereformasi politik?”

Alice Paul            : “Karena moral kami lebih baik?Itu Cuma dongeng. Ku tak punya ilusi tentang wanita. Mereka ada yang baik dan ada yang buruk, seperti pria juga. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan dengan hak pilih mereka dan aku tidak peduli.”

BW                     : “Pelarangan? Melegalkan program KB?”

AP                      : “Itu tidak penting. Bukan itu intinya”

BW                     : “Lalu apa?”

AP                      : “Karena kami warga yang sah. Kami ditarik pajak tanpa diberi pengacara. Tak berhak jadi juri, tak bisa diadili sesama wanita. Itu tidak berperasaan dan belum lagi melanggar konstitusi. Bukan kami yang membuat undang-undang, tapi kami harus patuh seperti anak.

Kau tahu Amandemen Emansipasi Wanita hanya punya satu suara dalam Senat. Sekarang kami mempunyai Sembilan Negara bagian. Itu berarti empat juta pemilih, atinya 1/5 wakil rakyat, 1/6 Senat dan 1/7 hak suara dari Negara bagian yang mendukung gerakan emansipasi wanita.

Kau ingin tahu apa yang bisa dibeli dengan suara itu?”

Dialog diatas memberitahu kepada kita bahwa ada anggapan (baca : ketakutan) terhadap perempuan apabila mereka diberi ruang untuk berubah dalam berpolitik maka yang terjadi adalah muncul tuntutan-tuntutan yang cenderung emosional. Tujuan yang ingin dicapai oleh Alice Paul sangat jelas yaitu pemberian hak politik kepada perempuan Amerika untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu, terlepas apakah hak politik itu akan dipergunakan oleh perempuan untuk tujuan tertentu. Namun yang pasti adalah mereka harus mendapatkan hak tersebut karena mereka adalah warganegara yang mempunyai hak yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Hak pilih yang dimiliki oleh seseorang akan memberikan akses untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan pemerintah. Harus disadari bahwa suara yang diberikan pemilih, akan memunculkan seseorang yang berkuasa yang akan menentukan masa depan mereka. Alice dan Lucy melakukan perekrutan simpatisan untuk ikut bersama mereka melakukan aksi. Target mereka yang pertama adalah kelompok buruh perempuan. Pada awalnya kelompok perempuan resis terhadap mereka. Namun, kampanye Alice akhirnya menyadarkan mereka. Alice berkata,

Kaum Penguasa adalah pemilik suara, dan suara itulah hak pilih. (Jika kamu tidak mempunyai hak pilih maka) tidak ada yang akan mendengarkan kamu”

Pemilihan strategi, waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan hal ini dipikirkan secara matang oleh Alice Paul untuk menarik perhatian media. Strategi yang pertama adalah pelaksanaan pawai yang bertepatan dengan pelantikan Presiden Woodrow Wilson. Dengan berpakaian ala dewi-dewi Yunani, parade ini berhasil menarik massa lebih banyak dibandingkan dengan pelantikan Presiden AS sendiri. Strategi kedua yang digunakan oleh Alice Paul adalah dengan berdemo didepan Gedung Putih. Spanduk yang dipergunakan dalam berdemo adalah bertuliskan pidato-pidato yang dahulu pernah diucapkan oleh presiden-presiden AS sebelum masa Presiden Wilson dan bahkan kalimat pidato Presiden Wilson sendiri. Usaha ini berhasil menarik perhatian media dan masyarakat. Demo ini tidak bertentangan dengan hukum karena dilakukan secara damai dan spanduk berisi kalimat-kalimat dari penggalan pidato para pemimpin AS. Di satu sisi, aksi ini telah mengundang perhatian media dan pemberitaan terhadap aksi berpengaruh terhadap pencitraan AS di luar negeri, yaitu dimana AS adalah Negara yang mencitrakan dirinya sebagai Negara demokratis. Di seperempat bagian terkahir film, diceritakan mengenai penangkapan terhadap Alice Paul yang dilakukan atas nama kepentingan AS. Namun, penangkapan ini justru semakin memperkuat posisi Alice dan meningkatkan isu kemarjinalan perempuan dalam berpolitik di publik. Tekanan rakyat menyebabkan Alice dapat keluar dari penjara dan mendorong Presdiden Wilson untuk berpidato mengenai hak perempuan di depan Kongres. Akhirnya Kongres menyepakati perubahan amandemen dalam konstitusi dan memberikan hak pilih bagi warganegara perempuan untuk memilih. (yantie)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>